BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian
Dalam kehidupan modern, keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Hal ini terlihat dari banyaknya alat komunikasi yang sangat memerlukan keterampilan menulis karena dunia modern sangat identik dengan dunia ilmiah yang memerlukan keterampilan menulis dalam menyampaikan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran yang cemerlang dituangkan ke dalam tulisan-tulisan agar dapat dibaca oleh orang banyak. Oleh karena itu, tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa keterampilan menulis merupakan ciri-ciri orang terpelajar.
Seperti yang dikatakan Tarigan (2006: 10) “di abad modern ini jelas bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Kiranya tidak terlalu berlebihan bila kita katakan bahwa keterampilan menulis merupakan suatu ciri orang terpelajar atau bangsa yang terpelajar”.
Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Ahmadi dalam Syahrudin (2006: 2) “di abad modern ini kemampuan menulis dengan jelas, padat dan tepat merupakan kualifikasi yang pada umumnya diperlukan agar berhasil dalam dunia dagang, pendidikan atau profesi”.
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara bertatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Keterampilan menulis merupakan kemampuan mengekspresikan, pikiran, perasaan, pengalaman dalam bentuk tulisan yang disusun secara sistematis dan logis, sehingga tulisannya dapat dipahami oleh pembaca.
Sebagimana yang dikatakan Badudu (2000 : 10),
“menulis merupakan suatu keterampilan yang pruduktif dan ekspresif, artinya selalu diperlukan dalam berbagai kepentingan dalam berbagai bidang kehidupan dan dapat mengungkapkan gagasan/ ide, pikiran dan perasaan kepada orang lain secara tidak langsung atau bertatap muka dengan lawan bicara”
Meskipun telah disadari bahwa penguasaan bahasa tulis mutlak dalam kehidupan, namun pada kenyataan di lapangan, keterampilan menulis khususnya di sekolah dasar masih belum pada standar yang diharapkan. Kenyataan tersebut terjadi salah satunya karena faktor pengajaran yang selalu memfokuskan anak pada teori-teori kebahasaan dibandingkan menuntut anak untuk mahir dalam keterampilan berbahasa, salah satunya keterampilan menulis. Dari hasil studi pendahuluan diketahui bahwa sebagian besar siswa merasa tidak dapat mengungkapkan dan mengemabangkan gagasan dan pikirannya. Kondisi ini diperkuat oleh pernyataan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah kita selama ini masih belum mencapai hasil yang belum optimal, apalagi disebut memuaskan (Jamaludin, 2003 : 45).
Pembelajaran menulis di sekolah selama ini belum optomal baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Metode pembelajaran menulis yang digunakan oleh guru tidak menarik. Akibatnya menjadikan siswa tidak memotivasi untuk menulis. Para guru pun belum menggunakan metode pembelajaran menulis secara bervariatif.
Selain itu para guru belum memberikan porsi waktu berlatih menulis kepada siswa secara maksimal. Orientasi pada materi masih saja membuat guru lebih mengarah pada pengajaran materi bentuk-bentuk tulisan tanpa diikuti bagaimana menghasilkan tulisan yang berkualitas, Dewi (2008).
Sejalan dengan yang dikatakan Durachman dalam Heniati (2006 : 5), ada beberapa hambatan dalam menulis, yaitu 1) sulitnya mengungkapkan ide ke dalam sebuah tulisan, 2) sangat miskinnya bahan yang akan ditulis, 3) kurang memadainya kemampuan kebahasaan yang dimiliki, 4) kurangnya pengetahuan tentang kaidah-kaidah menulis, 5) kurangnya kesadaran akan pentingnya latihan menulis. Oleh karena itu menjadi tugas gurulah untuk memilih metode, tehnik yang tepat dan bervariasi dalam pembelajaran menulis. Dengan metode itu diharapkan ditemukan solusi terhadap hambatan-hambatan yang dihadapi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, latihan keterampilan menulis bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan melalui penjelasan saja. Siswa tidak dapat memperoleh keterampilan menulis hanya dengan menunggu, mendengarkan, dan mencatat uraian guru. Keterampilan menulis memerlukan latihan dan praktik yang berkelanjutan. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar siswa harus langsung berlatih menulis. Tanpa adanya proses berlatih tidak mungkin keterampilan atau kemampuan menulis pada diri siswa akan muncul. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tarigan (1986 : 1) bahwa keterampilan menulis hanya diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan, walaupun tidak semua orang mempunyai minat dan bakat yang sama terhadap menulis.
Guru sebagai salah satu komponen utama dalam kegiatan belajar mengajar, hendaknya bersikap profesional di bidangnya begitu pula dalam pengajaran sastra. Selain menguasai pengetahuan tentang sastra, ia juga harus memiliki apresiasi dan keterampilan yang baik serta kecintaan terhadap karya sastra. Jika ia menghargai dan mempercayai pentingnya bidang yang ia tekuni maka ia akan “berdakwah” kepada siswa dengan rasa percaya diri (Sumarjo, 1995 : 39).
Ketidaktercapaian pengajaran sastra di persekolahan diidentifikasikan disebabkan oleh beberapa faktor (H. E Suryatin, 1992 : 52-53), yaitu faktor guru, siswa dan sarana. Khusus mengenai faktor guru, H. E Suryatin, mengidentifikasikan empat hal yang diduga keras menjadi penyebabnya, yaitu : 1) rendahnya minat baca guru terhadap karya sastra, 2) kurangnya guru belajar teori sastra, 3) kurangnya guru mengapresiasikan karya sastra serta, 4) guru dihadapkan luasnya cakupan materi kurikulum yang harus disampaikan padahal porsi waktu yang tersedia untuk bahasan sastra sangat terbatas.
Alexandra (2007) dalam jurnalnya mengatakan bahwa sebagian besar guru di sekolah dasar tidak cukup mengetahui tentang puisi dan ini akan berimbas kepada terbatasnya guru mengajarkan kepada siswanya, ‘Many teachers, specially in the primary schools visited, did not know enough about poetry and this was reflected in the limited range of poems studied’
Selain faktor-faktor yang sifatnya internal, menurut Taufik Ismail (2003 : 9), hal lain yang turut memperparah kemerosotan pengajaran sastra dalam hampir kurun waktu 60 tahun ini, diakibatkan hidup suburnya paradigma “pengunggulan berlebih kepada jurusan eksakta, dalam dunia pendidikan kita”. Akibat adanya pandangan tersebut maka tidak heran jika sastra akhirnya dipandang sebelah mata saja dalam konteks pendidikan di negeri ini.
Pengajaran sastra tidak hanya mempunyai aspek-aspek teori, latihan dan praktik, tetapi juga mempunyai nilai pembentukan watak dan sikap disamping itu juga adanya unsur-unsur kesenangan dan kenikmatan artistik. Tugiman (1984 : 25) bahwa tujuan pengajaran sastra membuka jalan dan bimbingan kepada peserta didik yang berbakat untuk mampu menulis sajak.
Menulis merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Manusia yang ingin selalu berkarya, membuat keterampilan menulis perlu diasah secara maksimal. Salah satu keterampilan menulis yang dianggap sulit adalah keterampilan menulis puisi. Bagi sebagian orang, saat menulis puisi kita harus memiliki potensi dan daya kreativitas yang tinggi. Tidak mudah bagi seseorang merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang indah dan kaya akan makna. Kerumitan unsur-unsur puisi membuat puisi dianggap sebagai sebuah karya sastra yang tidak sederhana, karena puisi diciptakan dengan berbagai unsur bahasa dan estetika yang saling melengkapi. Kerumitan unsur-unsur puisi inilah yang bagi sebagian orang dikategorikan sebagai kendala atau penghambat dalam menulis puisi.
Dengan puisi seseorang dapat menggambarkan perasaannya, dengan puisi seseorang dapat mencurahkan segala isi hatinya dan lewat guratan kata penuh makna inilah seseorang dapar merealisasikan pemikirannya. Puisi merupakan pernyataan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan. Puisi tidak terlepas dari seni merangkai kata yang penuh makna. Perasaan dan pemikiran penyair mengolah kata sedemikian rupa sehingga tercipta puisi.
Di sekolah, menulis puisi merupakan pembelajaran yang masih kurang diminati. Hal ini terjadi kurangnya minat serta kemampuan siswa dalam mengapresiasi, menulis puisi dan kurangnya buku-buku sastra. Belum optimalnya mutu kemampuan menulis siswa disebabkan oleh kenyataan bahwa pengajaran menulis atau mengarang masih dianaktirikan. Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah lebih mengutamakan keterampilan menyimak dan membaca daripada keterampilan menulis.
Pembelajaran menulis puisi di sekolah-sekolah lebih banyak ditekankan pada pengenalan teori puisi saja. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Aftarudin (dalam Rahayu : 2007) bahwa pengajaran puisi selalu dititik beratkan pada teori-teori yang verbalisme, sedangkan hasil-hasil puisi para penyair dan bagaimana sikap siswa menghayati puisi masih kurang dilakukan oleh para pengajar.
Nilai siswa dalam pembelajaran menulis yang belum optimal khususnya puisi tampak pada beberapa penelitian yang telah dilakukan diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Rani Andriani dengan skripsinya yang berjudul “Penggunaan Media Gambar Fotografi dalam Pembelajaran Menulis Puisi Siswa Kelas 1 SMUN 6 Bandung. Penelitian lain yang berjudul “ Penggunaan Metode Imajinasi dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Siswa “. Berbagai penelitian tersebut menunjukan bahwa keterampilan menulis siswa khususnya menulis puisi masih perlu ditingkatkan, khususnya pada penggunaan gaya bahasa dan kata-kata imajinasi serta pilihan kata yang tepat.
Pembelajaran menulis puisi di sekolah dirasakan belum optimal terlaksana dengan baik, terutama dalam pilihan kata, gaya bahasa, rima dan penggunaan kata-kata imajinasi. Karena Hal ini dipengaruhi oleh media dan metode pembelajaran yang berdampak terhadap keterampilan siswa. Oleh karena itu, guru harus mampu menggunakan media dan mengembangkan metode pembelajaran yang variatif dan inovatif agar tidak menjenuhkan siswa dalam belajar. Dengan penggunaan media yang menarik, pembelajaran menulis puisi diharapkan lebih menyenangkan dan membantu siswa dalam memperoleh ide (inspirasi) ketika menulis puisi.
Modi (2008) mengatakan dalam jurnal nya, bahwa sebagian besar anak di negara India tidak menyukai puisi, hal ini disebabkan karena salah satu permasalahannya yaitu metode pengajaran yang hanya mengajarkan puisi hanya terbatas melalui contoh-contoh puisi yang ada dalam buku teks pelajaran saja.
Sebagaimana dikatakan oleh Sudjana dan Rivai (1991 : 1) bahwa, “ dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar”.
Kegiatan menulis tidak hanya menggunakan kemampuan otak kiri saja yang sifatnya terstruktur dan logis, tetapi juga menggunakan kemampuan otak kanan. Penggunaan otak kanan memungkinkan untuk berimajinasi dalam menulis, anak kurang dapat menuangkan apa yang ada dalam pikirannya melalui bahasa tulisan. Oleh sebab itu pengoptimalan otak kanan sangat diperlukan.
Proses berfikit kreatif dapat muncul saat otak dalam keadaan tenang dan rileks, keadaan ini baik sekali untuk belajar. Ingatan lebih mudah diendapkan dalam kulit otak bila pikiran tidak ‘bercabang’ (Taufik Pasiak, 2002 : 164). Keadaan otak yang rileks ini memberikan kontribusi bagi pikiran untuk mengolah setiap informasi dialam bawah sadar. Ketika otak kanan dalam keadaan rileks, seseorang sedang dala keadaan melamun. Namun bukan hanya sekedar melamun karena pada saat itu otak dibiarkan bekerja secara rileks. Pada saat itulah otak mampu berfikir dan berimajinasi tinggi, sehingga muncullah ide atau gagasan serta mampu meningkatkan keterampilan menuangkan ide atau gagasan ke dalam sebuah tulisan.
Kurangnya daya imajinasi siswa dalam memunculkan ide yang notabene merupakan pekerjaan otak kanan, membuat kreativitas anak terbengkalai. Hal ini disebabkan adanya kekeliruan dalam sistem pendidikan di indonesia, seseorang yang dikatakan cerdas, identik dengan IQ tinggi, pintar matematika dan nilai mata pelajaran bahasanya tinggi ataupun kemampuan-kemampuan lain yang mengukur kecerdasan anak dari aspek otak kiri saja. Padahal kecerdasan seseorang tidak hanya mencakup hal-hal yang bersifat matematis dan logis, tetapi juga kreativitas merupakan salah satu aspek kecerdasan. Aspek kognitif tidak dapat mengukur kreativitas, kapsitas emosi, nuansa spiritual dan hubungan sosial. Oleh sebab itu perlu adanya metode pembelajaran yang tidak hanya melatih kemampuan otka kiri saja, tetapi juga dapat mengoptimalkan belahan otak kanan yang selam ini terabaikan, terutama untuk pengajaran menulis puisi yang pengerjannya menggunakan belahan otak kanan dan otak kiri.
Setelah menganalisis permasalahan di atas, penulis memilih bahasan pembelajaran menulis dengan menggunakan metode imajinasi. Penulis berasumsi puisi lebih tepat digunakan dalam metode imajinasi karena siswa dapat menuangkan imajinasinya dalam bentuk puisi berdasarkan pikiran, pengalaman dan pengamatannya dalam waktu 2 jam pelajaran (2x35 menit). Selain itu, puisi merupakan karangan yang padat isi dan ekspresif. Sehingga akan lebih efektif jika materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah puisi. Dengan prediksi penulis dapat memperoleh data langsung setelah proses pembelajarn (2x35 menit). Peneliti menganalisis kesulitan siswa ketika mengapresiasi puisi. Sebagian besar siswa sulit menentukan jenis majas, dan kata-kata imajinasi ke dalam sebuah puisi. Pemahaman dan pengetahuan mengenai unsur-unsur puisi merupakan bekal yang harus dimiliki siswa dalam menulis puisi.
Kesulitan siswa dalam menulis puisi sesuai dengan studi pendahuluan, yaitu menuangkan serta menemukan gagasan awal dalam menulis, dan bagaimana mulai merangkaikan kata. Oleh karena itu, diperlukan sebuah metode yang dapat mengarahkan siswa untuk meruntuhkan kesulitan-kesulitan tersebut. Menjadikan tugas independen (menulis) yang terasa sulit menjadi mudah dan mengalir.
Melalui imaji visual, siswa dapat menciptakan gagasan mereka sendiri. Imaji cukup efektif sebagai suplemen kreatif dalam belajar bersama. Cara ini juga dapat berfungsi sebagai papan loncat menuju proyek atau tugas indepeden yang pada awalnya mungkin tampak membuat siswa kewalahan. (Silberman, 2004 : 201)
Selain metode yang inovatif dan variatif, salah satu cara untuk meningkatkan minat dan gairah belajar siswa dalam menulis puisi, yaitu dengan menggunakan media yang menarik. Karena media adalah sarana sebagai penyampai informasi (materi pelajaran) kepada penerima (siswa). Dengan penggunaan media yang menarik, pembelajaran menulis puisi diharapkan lebih menyenangkan dan dapat membantu kesulitan siswa dalam memperoleh ide (inspirasi) ketika menulis puisi.
Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan tahan lama sehingga kualitas pembelajaran mempunyai nilai tinggi, karena media pembelajaran meletakkan dasar-dasar yang kongkrit untuk berfikir dan dapat mengurangi verbalisme. Hal ini sesuai dengan teori perkembangan intelektual anak menurut Piaget (Nurikhsan, 2007 : 12), bahwa pada tahap operasional kongkret (6-11 tahun) mereka masih berfikir abstrak dan pada akhir tahap ini baru mereka dapat berfikir abstrak yang sederhana. Dan yang paling penting anak dalam tahap ini masih sangat membutuhkan benda-benda kongkret untuk mendorong pengembangan intelektualnya.
Penggunaan media gambar dalam pembelajaran menulis puisi telah mendapatkan nilai yang positif, hal ini telah dibuktikan oleh seorang pakar pendidikan, yaitu Suyatno. Suyatno (2004) telah mengujicobakan penggunaan media gambar tersebut baik di SD, SMP, SMA maupun SMK. Dan hasilnya menunjukan bahwa media fotografi dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “ Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Siswa Sekolah Melalui Metode Imajinasi Dengan Menggunakan Media Gambar Fotografi (Studi Eksperimen Kuasi pada Siswa MI PUI Kertaharja Kecamatan Cijeunjing Kabupaten Ciamis)”.
1.2 Identifikasi Masalah Penelitian
Adapun yang menjadi identifikasi masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.2.1. Pengajaran menulis di sekolah belum optimal terlaksana dengan baik. Hal ini terlihat dari kemampuan siswa dalam menulis masih belum optimal. Kelemahan ini selain disebabkan oleh siswa, juga karena diperlukan cara mengajar yang lebih menarik dan lebih bervariasi.
1.2.2. Penggunaan metode, media dan tehnik pembelajaran menulis harus lebih bervariasi. Suatu metode atau tehnik yang digunakan guru akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar. Oleh karena suatu metode atau tehnik yang tepat dan bervariasi dapat mendukung keberhasilan pembelajaran
1.3. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
1. bagaimanakah proses pembelajaran menulis puisi melalui metode imajinasi dengan menggunakan media gambar fotografi?
2. apakah penerapan metode imajinasi dengan menggunakan media gambar fotografi lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensioanl dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa?
1.4. Batasan Masalah Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis hanya akan membahas masalah yang berkaitan dengan pembelajaran menulis puisi melalui metode imajinasi dengan menggunakan media gambar fotografi pada siswa kelas V MI PUI Kertaharja Kecamatan Cijeujing Kabupaten Ciamis.
1.5. Cara Pemecahan Masalah
Masalah pembelajaran menulis karya sastra terutama menulis puisi yang kurang menggairahkan siswa dan kurangnya penggunaan media serta metode yang belum pernah digunakan oleh guru dalam pembelajaran menulis puisi dapat ditingkatkan dengan melalui metode imajinasi dengan menggunakan media gambar fotografi yang mudah diperoleh. Penggunaan media dan metode ini diharapkan memudahkan siswa mendapat gambaran maupun imajinasi yang dapat mereka kaitkan dengan pengalaman yang pernah mereka alami sehingga proses kreatif dalam menulis puisi dapat mengalir begitu mudah dan ekspresif. Penggunaan media gambar fotografi ini pun diupayakan berupa foto yang akrab dengan kehidupan sekitar mereka. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat menimbulkan motivasi siswa dalam menulis puisi.
1.6.Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk:
1. mengetahui proses pembelajaran menulis puisi melalui metode imajinasi dengan menggunakan media gambar fotografi.
2. mendeskripsikan keefektifan metode imajinasi dengan menggunakan media gambar fotografi dibandingkan dengan metode konvensional dalam pembelajaran menulis puisi siswa.
1.7 Manfaat Penelitian
Ada empat manfaat pokok yang dapat diambil dari penelitian, yaitu :
a. Manfaat bagi Guru dan Siswa
Memperoleh gambaran dan menerapkan pengajaran menulis puisi melalui metode imajinasi dengan menggunakan media gambar fotografi. Serta bagi siswa adalah mereka lebih meningkatkan keterampilan menulis karya sastra, yaitu puisi dengan menggunakan media yang tepat.
b. Manfaat bagi Pengembangan Ilmu
Melalui kegiatan penelitian ini, ilmu sastra dapat dikembangkan di tingkat pendidikan dasar melalui pelaksanaan penggunaan metode imajinasi dan media gambar fotografi khususnya pembelajaran menulis puisi di kelas V sekolah dasar.
c. Manfaat Pemecahan Masalah
Melalui kegiatan penelitian ini, disamping dapat mengembangkan ilmu sastra di tingkat pendidikan dasar, diharapkan dapat memecahkan problematika pengajaran sastra di sekolah dasar dengan memberikan sumbangan pemikiran dan pengalaman berharga kepada guru dalam pelaksanaan penggunaan metode imajinasi dan media gambar fotografi di kelas V sekolah dasar.
d. Manfaat Kepentingan Lembaga dan Masyarakat
Melalui kegiatan ini diharapkan memperoleh manfaat bagi lembaga dan masyarakat sebagai berikut :
1. mengembangkan ilmu terapan dalam bidang ilmu sastra untuk ditingkatkan di tingkat sekolah dasar, dan
2. mengembangkan fungsi lembaga pendidikan bagi masyarakat melalui siatu kegiatan penelitian bidang ilmu sastra di tingkat sekolah dasar.
1.8. Anggapan Dasar Penelitian
Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Menulis merupakan salah satu komponen berbahasa yang paling penting.
b. Kemampuan menulis siswa harus ditingkatkan dan mendapat latihan yang proporsional dengan teknik yang bervarisi.
c. Menulis puisi merupakan latihan yang dapat memberi peluang untuk meningkatkan kemampuan siswa.
d. Metode imajinasi dengan menggunakan media gambar fotografi dapat menjadi alternatif untuk membantu membuka inspirasi dalam menulis puisi.
1.9. Hipotesis
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka penelitian ini dirumuskan terlebih dahulu hipotesis
Ho = ada perbedaan skor yang signifikan antara skor rata-rata tes awal dan rata-rata skor tes akhir menulis puisi dengan metode imajinasi melalui media gambar fotografi.
Hi = tidak ada perbedaan skor yang signifikan antara skor rata-rata tes awal dan skor rata-rata tes akhir menulis puisi dengan metode imajinasi melalui media gambar fotografi.
1.10. Definisi Operasional
1. peningkatan kemampuan siswa menulis puisi adalah upaya memajukan kesanggupan dan kecakapan diri siswa untuk mengembangkan kemampuan bahasa tertulis mereka dan membimbing siswa menggunakan cara berfikir kritis untuk menulis sebuah kata indah yang imajinatif.
2. metode imajinasi adalah sebuah metode yang dapat merangsang imajinasi siswa untuk menuangkan kata-kata yang indah kedalam sebuah puisi.
3. media gambar fotografi adalah sebuah sarana visual untuk merangsang inspirasi siswa dalam menuangkan sebuah ide atau gagasan yang dapat melahirkan karya yang kreatif dan menarik.
Read More..
THE IMPORTANCE OF COMMUNICATION WITH EMPLOYEES
-
To facilitate the operations of an organization, communication with
employees is very important. Here are 6 (six) of alternative approaches:
1. Orientatio...
1 jam yang lalu






